Niatlah atas nama Allah

Suatu Kebaikan menjadi bernilai bila dilakukan dengan ikhlas, dan akan menjadi celaka bila dilakukan dengan pamrih, Fastabiqul Khoirot - Berlomba-lombalah dalam kebaikan dengan niat karena Allah

Showing posts with label Dinsos. Show all posts
Showing posts with label Dinsos. Show all posts

Thursday, December 27, 2012

Mengejutkan, Penghasilan Pengemis di Jakarta Lebih Besar dari UMR


 


Macetnya ibukota seringkali membuat kita mampu lebih aware dengan situasi jalanan. Kalau kamu selalu melewati rute jalan yang sama setiap harinya, coba perhatikan pengemis yang ada di beberapa titik lampu merah yang kamu lewati. Apakah kamu mendapati pengemis yang sama setiap melintasi daerah tersebut? Sebagian besar dari kamu pasti akan menjawab iya. Lalu, apa yang terjadi dengan fenomena ini?
Menurut Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, jumlah gelandangan dan pengemis di perkotaan selalu meningkat setiap tahunnya. Angkanya bisa mencapai lebih dari 80.000 jiwa. Gelandangan dan pengemis ini terdiri dari warga setempat atau para pendatang. Bahkan, di beberapa momen tertentu seperti Bulan Ramadhan dimanfaatkan baik oleh para gelandangan dan pengemis. Jumlah mereka bisa meningkat hingga 10% pada bulan tersebut. Setelah melakukan investigasi kecil-kecilan, saya baru mengerti mengapa peningkatan ini terus terjadi.
Seorang teman pernah bercerita tentang pengalamannya melihat sebuah mobil berhenti pada pukul 01.00 pagi di bawah jalan layang sebuah kawasan perumahan di Tangerang. Mobil tersebut kemudian mengangkut beberapa gelandangan dan pengemis yang sudah berkumpul sebelumnya. Rasa penasaran terhadap cerita ini mengantarkan saya bertemu dengan Dodo (10), seorang pengemis di kawasan perumahan tersebut. Lewat obrolan santai, malam itu ia bercerita tentang kesehariannya sebagai pengemis, salah satunya adalah mengenai adanya orang yang mengkoordinatori para pengemis.
Koordinator pengemis ini memiliki beberapa ‘anak buah’ yang kemudian dibentuk menjadi kelompok-kelompok yang masing-masing beranggotakan 7-10 orang. Berdasarkan pengalaman Dodo, para pengemis biasanya diantar pada pagi hari ke titik-titik tempat yang telah ditentukan. Mereka mulai bekerja dari jam 06.30 sampai sekitar 17.00. Lalu mereka akan kembali dijemput pada dini hari, saat jalanan mulai kosong. Setiap harinya, Dodo dan beberapa pengemis yang lain harus menyetor sekitar Rp 30.000,00 kepada koordinatornya.
Beberapa dari kita mungkin heran, karena jumlah tersebut semestinya terbilang banyak bagi seorang pengemis. “Bayar segitu sih masih bisa, mbak. Saya dapet jauh lebih gede, kok,” ungkap Dodo dengan menyebutkan bahwa dalam sehari minimal yang dia dapat adalah Rp 300.000,00. Jelas jumlah tersebut tidak sedikit. Padahal Dodo ditempatkan di kawasan perumahan, bagaimana dengan pengemis di jalan utama ibukota? Seorang pedagang kaki lima di daerah Bulungan, Blok M, mengakui bahwa pengemis yang berkeliaran di sekitar daerah tersebut dapat berpenghasilan tidak kurang dari Rp 500.000,00 setiap harinya. “Mereka bisa dapetin sampai Rp 700.000,00. Kita sering kok nuker uang kecil sama mereka.”


Sumber : www.fimela.com

Friday, February 24, 2012

Dua Karang Taruna Diakseskan Dana UEP Peternakan

RANDUDONGKAL - Dua Karangtaruna di Kecamatan Randudongkal diajukan ke tingkat propinsi Jawa Tengah untuk mendapatkan dana Usaha Ekonomi Produktif (UEP) tahun 2012. Hibah tersebut diarahkan pada bidang peternakan kambing.
TKS (Tenaga Kerja Sosial) Kecamatan  Randudongkal ditunjuk Dinsosnakertrans Kabupaten Pemalang untuk menentukan beberapa karangtaruna yang  layak mendapatkan UEP Peternakan. Kebetulan program ini juga merupakan instruksi dari Dinsos Semarang.
Dengan arahan tersebut, TKSK menyediakan dua calon karangtaruna penerima Hibah. Dua calon penerima tersebut antaralain AKEMA (atas kemauan bersama) dari Desa Penusupan dan Tunas Jaya dari Desa Semingkir.
Menurut TKSK Randudongkal, Muhidin, S.Ag, karangtaruna AKEMA sudah memiliki peternakan yang berjalan bahkan berkembang. Lain dengan Tunas jaya yang masih dalam tahapan rencana. Sehingga untuk diusulkan yang paling siap dari dua Karangtaruna tersebut adalah  AKEMA Desa Penusupan.
 “Jumlah dana UEP sebesar Rp 15 juta rupiah natinya diberikan berwujud uang tetapi untuk dibelikan kambing,” ujarnya.
 Selain itu yang menjadi pertimbangan ditunjuknya Akema adalah karena sebelumnya akema sempat medapatkan dana serta sukses mengelolanya. Karang taruna yang diketuai Agus Toni, S.Hi pernah mendapatkan dana ROK (olahraga dan kesenian). Pada kesempatan itu dana yang turun tersebut dialokasikan kepada pembelian rebana dan perlengkapan sepakbola. Kekurangan dari pembelian alat-alat tersebut kemudian ditalangi oleh karangtaruna sendiri.
“Dari referensi ROK ini, Akema akhirnya dinominasikan sebagai penerima hibah dari Dinsos Jateng ini,” ungkapnya
Saat ini Akema sudah mengelola tiga peternakan yaitu lele, kelinci dan kambing. Sebagai tempat berkumpul anggotanya, Akema menjadikan Balai Desa sebagai Secretariat.
Jika karangtaruna Akema nantinya mendapatkan dana UEP yang dialokasikan dari APBD I, nantinya untuk menunggu kesiapannya, Karangtaruna Tunas Jaya akan diakseskan ke dana-dana di APBN.

Bagaimana Karang Taruna Limbangan?