Niatlah atas nama Allah

Suatu Kebaikan menjadi bernilai bila dilakukan dengan ikhlas, dan akan menjadi celaka bila dilakukan dengan pamrih, Fastabiqul Khoirot - Berlomba-lombalah dalam kebaikan dengan niat karena Allah

Showing posts with label Histories. Show all posts
Showing posts with label Histories. Show all posts

Monday, October 15, 2012

LIMBANGAN THE BEST OF PEOPLE



  • Limbangan ternyata gudangnya manusia-manusia kreatif dan cerdas, bukan hanya kini dari jaman terdahulu pun sudah demikian, apa saja kelebihan putra desa Limbangan ? Inilah Orang-orang terbaik Limbangan yang dirangkum oleh Penyair dari Utara / Hadi Waluyo


PUTRA DESA LIMBANGAN YG SBG PENULIS ARTIKEL LEPAS DI MEDIA CETAK SUARA KARYA DAN SUARA MERDEKA

Tahukah anda bahwa putra Limbangan diera kurang lebih tahun 1986 ada yg menjadi PENULIS ARTIKEL LEPAS untuk surat kabar Suara Karya dan Suara Merdeka ?

Adalah bapak Nuryat (ayahandanya kang Nano,kang Hardo) adalah putra Limbangan yg berkiprah di media dan mampu bersaing sbg penulis artikel professional untuk surat kabar 2 yg paling bergengsi untuk wilayah Jawa Tengah
Perlu di cacat bahwa kemampuan ini sangat jarang di miliki dan menjadai almamater bahwa kita punya sosok putra desa selangakah lebih kompeten di banding daerah lain di bidang tulis menulis di media yg berlevel regional bahkan nasional

Dan era sekarang regenerasi berikutnya ada nama Guntur Yuwono yg salah satu artikelnya di muat di majalah pelajar MOP( Kumis Terpanjang Di Dunia), Hadi Waluyo waktu itu pake initial Dika Kameswara( Hadee Gitarist Gadungann)dg artikel puisi2nya di majalah MOP, kemudian ada generasi berikutnya Puji Hartanto/Fauzi Abdurrohman (Ingsun FA) yg jg penulis buku2 terbitan CV KUTUB dan termasuk salah satu Petinggi CV KUTUB Jogjakarta yg sekarang dalam masa vakum
Kemampuan ini sangat jarang di miliki oleh putra desa lain bahkan untuk level wilayah regional dan pernah menjadi prestisse di dunia media cetak dan tulis menulis.





PEMECAH REKOR TERTNGGI PEMBUATAN BATA MUSIMAN UNTUK UNTUK PEMALANG


Bekerja sebagai pembuat batu bata adalah pekerjaan yg sangat berat, on time dan gk kenal waktu, apalagi pengrajin batu bata terkendala cuma bisa di lakukan di musim kemarau saja dan hanya punya waktu produksi kurang lerbih 4 bulan
Adalah bapak Sugi, seorang pengrajin batu bata yg mampu memecahkan rekor untuk tingkat Pemalang bahkan Eks karisidenan Pekalongan dg rekor produksi semusim 225 ribu biji bata, rekor sebelumnya di pegang orang Pendowo dg produksi 95 ribu biji permusim, dan masyarakat umumpengrajin bata cuma bisa produksi antara sekitar 15-30 ribu biji saja untuk tiap musimnya.




PEMANJAT KELAPA PALING UNIK DAN SALAH SATU PENGGAGAS ATRAKSI MAUT DI DUNIA PANJAT MEMANJAT


Berprofesi sbg seorang pemanjat kelapa memang sangat beresiko dan butuk tenaga yg super ekstra, bayangkan saja tiap hari mereka bisa memanjat pohon kelapa antara 15 sampai 20 pohon dg ketinggianpohon yg variatif

Adalah Bapak BLONOS atau lazim di panggil DE BLONOS adalah seseorang yg mempunyai kemampuab memanjat yg unik dan atraktif dg tantangan maut yg benar2 nyata, bahkan waktu itu ada seorang dari Jakarta yg sangat kagum dan de Blonos di kategorikan seorang mentalist yg handal 

Bayangkan saja beliau mampu pindah pohon dg MERAMBAT LEWAT DAUN KELAPA dari pohon yg satu ke pohon yg lainnya, sungguh mental dan kemampuan yg sangat jarang di miliki pemanjat yg lain,...
Dan dalam profesinya sbg pemanjat kelapa professional De Blonos tercatat sbg pemanjat yg memiliki kemampuan lebih dan jarang di miliki oleh putra desa lain.



MAGICIAN DAN SENI SULAP PEMALANG


Di era tahun antara 1970_an adalah seorang bpk Duryono (ayahandanya maz Brow Ken Anok) adalah seorang perwira TNI yg punya keahlian berupa seni sulap dan di akui sebagai pesulap ulung untuk wilayah kabupaten Pemalang dan pernah jadi milik kebanggaan desa Limbangan yg jarang dimiliki oleh daerah lain, beliau dikenal sbg pesulap HYPNOTIS dan sangat professional di eranya yg mampu mengibur masarakat luas
Kemudian mulai era tahun 1988 seorang pemuda Limbangan meneruskan popularitasnya sbg seorang ahli sulap yaitu bernama Surip hingga sekarang, Surip adalah spesialis pesulap yg beraliran TRICK SKILL dg produk2 sulapnya yg unik seperti ; bakar kepala, tidur diatas papan yg penuh paku, kelapa yg di belah berisi sarimi matang dll
Perlu di catat bahwa kemampuan yg mereka miliki sangat jarang di temui untuk desa dan daerah yg lain, dan ini pernah menjadi kebanggaan desa Limbangan di era masing2)




KELILING INDONESIA DG BERSEPEDA "MUNDUR"


Tahukah anda di era kira2 antara th 1992-1993 (tolong ralat bila ada kesalahan penulisan tahun) putra desa Limbangan telah berhasil mengelilingi lebih dari separuh wilayah nusantara dg sepeda mundurnya,!?


Adalah Guntur Yuwono seorang remaja kreatif di eranya yg membentuk sebuah komunitas sepeda mundur dan bertekad "GO NASIONAL" dg touring sepeda mundurnya
Perlu di catat dalam sejarah bahwa kempuan ini adalah langka dan menjadi salah satu kebanggaan desa Limbangan di era itu, desa yg melahirkan sosok2 kreatif remaja yg di buktikan dg prestasi yg nyata yg sangat sulit di lakukan oleh orang banyak
Dan remaja Limbangan yg kala di kenal sbg remaja yg suka tawuran dan kegiatan negatif lainya semacam minum minuman keras dsb ternyata mampu mengukir sejara yg langka dan unik yg bisa di persembahkan untuk Ibu Pertiwi



PELUKIS DARI LIMBANGAN YANG EKSIS DI JAKARTA


KEMBANGSEPATU. Kelahiran Pemalang Jawa Tengah pada tanggal 30 oktober 1972. Sejak tahun 1999 sampai sekarang mengajar Seni Budaya (seni rupa ) di SMPK 7dan 3 BPK Penabur Jakarta dan pernah bergabung dengan Komunitas Pelukis Pasar Seni Ancol. Di sela-sela waktu kesibukanya mengajar tetap melukis dan tidak sedikit karyanya di buat di depan kelas,di depan murid-muridnya tanpa mengurangi esensi dari proses belajar-mengajar tetapi justru menambah khasanah. “Practic is perfect” kata inilah yang memberikan tantangan dalam mengajar juga menjadikan spirit kepada siswa dalam berkarya. Dari dua kata yang singkat itu pulalah, suasana belajar mengajar menjadi punya “roh” punya “ci”. Setiap individu dengan kemerdekaanya bisa menilai, memberikan apresiasi kepada karya gurunya... dan yang lebih penting lagi adalah mengetahui proses penciptaan dari suatu karya. Dari hanya sebuah “titik” menjadi garis, bidang,bentuk hingga suatu karya itu dibubuhkan tanda tangan. Belajar sambil memeragakan, belajar sambil berkarya. Bukan memberitahu tetapi memberi contoh.

Adapun prestasinya antara lain :
Sering mengirim artikel semacam Pantun di majalah-majalah seperti MOP, memenangkan lomba menulis Pantun di BPK Penabur, mendapat Penghargaan dari rektor IKIP Jakarta, karena telah membawa lenong alternatif ke stasiun TPI (sekaran MNCTV) diantara pemain yg sekarang masih eksis adalah : Narji, Denny dan Wendi (mereka adalah binaannya) di awal2 masuk kampus, penata artistik terbaik pada festival teater antar perguruan tinggi se jawa dan bali di jogja, Juara karikatur tingkat jurusan *pada awal masuk kampus, juara I lukis pekan seni mahasiswa nasional dan masih banyak prestasi lainnya.
       
Kembang Sepatu , "Dalam blog pribadiku saya tulis asal daerahku, semata-mata karna saya sangaat bangga dg limbangan sangat bangga dengan orang2 dan pemuda limbangan. bravo limbangan... bravo pemuda Limbangan!"

Dan Masih banyak lagi kreativitas baik dalam seni budaya ataupun karier Wong Limbangan yang layak ditiru dan diacungi jempol.
Seperti :
Bpk. Duryono sebagai pimpinan Tanjidur Garuda Karya
Bpk. Kastari pimpinan kesenian Kuntulan dll.






Friday, February 24, 2012

BABAD TANAH LIMBANGAN



Desa Gumingsir
Dahulu asal muasal penduduk Gumingsir berasal dari Blok Wali Kukum ( sekarang adalah perbatasan sawah milik Penduduk desa Limbangan dengan Desa Wonokromo ). Pada awalnya banyaknya penduduk Wali Kukum hanya berjumlah 28 orang dengan pimpinan Desa yang pertama adalah Kaki Koewoso/Kaki Bau Koewoso . karna letak Geografisnya Wali KuKum di sebelah timur Sungai Comal ( waktu itu letaknya di sebelah timur bantaran Desa Susukan ) maka jelas sebagai tempat langganan banjir dikala musim rendeng tiba, oleh sebab itu penduduk Wali Kukum selalu berusaha mencari tempat yang lebih tinggi atau selalu bergeser/Minggir untuk menghindari banjir luapan kali Comal.
Akhirnya mereka Minggir bergeser kearah utara agak ke timur ( timur laut , kalau sekarang tempat pertamanya di Gumingsir bagian Timur laut/Ujung. Di tempat baru ini banyak sekali pepohonan terutama pohon Wuni oleh karena itu mereka menyebutnya dengan Blok Siwuni.
Mereka sepakat berunding untuk nggingsir ( menyingkir pindah dari WaliKukum) ke tempat yang baru yang di sebutnya dengan Pulau Si Ceblung dengan pemimpin Desa bernama Kaki Koewoso atau biasa di sebut Bau Koewoso.
Pada waktu itu pemerintahan setingkat Kecamatan berada di Desa Padek, Oleh Camat Kaki Koewoso di beri mandat untuk menambah jumlah penduduk agar berjumlah 40 orang. Akhirnya ke 12 orang untuk menggenapi ke 40 orang di ambil dari Desa Wonokromo, Desa Susukan, Klegen, Sarwodadi/Kaso, gandu dan Desa Gedeg. Desa Si Ceblung yang berpenduduk campuran itu semakin tampak kemajuannya, baik cara-cara bercocok tanam, berdagang maupun sebagai nelayan dengan sampan kecil sederhana. Dari kemajuan yang semakin pesat dan cepat pemerintah Kecamatan memandang perlu adanya Kepala Desa/Lurah yang harus melalui pemilihan. Dengan demikian segera dilaksanakan pemilihan Lurah di Desa Si Ceblung dengan 2 calon lurah yang salah satu calon lurahnya berasal dari Desa Ketapang yaitu Kaki Daisan/Timan, sedang Calon Lurah yang satunya adalah Kaki Bau Koewoso sendiri.
Akhirnya yang terpilih adalah Kaki Daisan/Kaki Timan. Maka Lurah pertama Desa Gumingsir adalah Kaki Daisan/Timan dengan julukan Wonomerto Wijoyo. Dan mengingat Desa Si Ceblung berasal dari Walikukum dan beberapa orang dari desa tetangga maka Si Ceblung diganti menjadi Desa Gumingsir asal kata dari NGGINGSIR / DIGINGSIR
Kepala Desa Gumingsir
1.Kaki Daisan/ Timan dengan Julukan Ki Wonomerto Wijoyo
2.Kaki Blendrek dengan Julukan KI Wonorekso
3.Kaki Samblo ( yang saya baca tak ada julukannya)
4.Kaki Tjowongso
5.Kaki Taniman/ Kaki Torek dengan julukan Wono Drijo
6.Kaki Riwan / kaki Tjetet
7.Kaki Warmin dengan Julukan KI Wonosoeto
Pada kepemerintahan lurah Ki Wonosoeto ( adanya perkawinan anak lurah ) Gumingsir dan Limbangan di jadikan satu desa dengan Desa bernama Limbangan dan Gumingsir menjadi wilayah bagian Desa Limbangan…

Asal Muasal Desa Limbangan
Menurut sumber yang saya baca, penduduk desa limbangan asal mulanya dari penduduk Blok Pedasaran ( kira – kira tepatnya di bengkok carik desa limbangan dan desa sekitarnya) Pada jaman itu Blok Pedasaran sering sekali terjadi banjir saat musim – musim penghujan ( rendeng) , maklum tempat tersebut lokasinya terlalu rendah sedangkan kali/sungai comal sering sekali meluapkan airnya ke segala penjuru kampong di sekitar sungai karna pada jaman tersebut sungai comal terletak di sebelah timur desa susukan .
Orang-orang penduduk blok Pedasaran selalu merasa terancam dan was-was karna banjir yang selalu datang tiba-tiba dari kali comal, apalagi Blok Pedasaran yang notabene dataran rendah yang akhirnya penduduk Blok Pedasaran senantiasa berusaha mencari tempat lain yang terhindar dari luapan air kali Comal agar jangan kebanjiran. Pada akhirnya mereka menemukan sebuah tempat di sebelah utaranya ( kalau sekarang adalah Ujung Barat Desa Limbangan ( Limbangan Kulon ). Maka mereka bulat untuk pindah tempat, pemindahan dilakukan berangsur angsur ini di sebut juga Nglimbang atau di Limbang ( di pindah ). Di tempat yang baru mereka menamakan dengan nama Desa Limbangan dengan Kepala Desa yang Pertama adalah Kaki Warmin atau KI Wonosuto
Wilayah Desa Limbangan tidak mempunyai kebudayaan yang khas hal itu bisa di maklumi karena berpenduduk campuran dari berbagai daerah . untuk bahasa sehari hari penduduk Limbangan berbahasa khas yang mirip dengan bahasa OSING Blambangan.
Daerah ini pada awalnya lebih ke utara lagi masih berupa pantai dan laut ( Ujung Kumpul ), hingga terjadi pendangkalan air laut. Sebelum Desa Limbangan lahir desa di sebelah timur terdapat Desa Gumingsir dan Ketapang yang ada terlebih dahulu jauh sebelum Limbangan lahir….
Itulah asal usul desa Gumingsir dan Limbangan apabila ada kekeliruan mohon maaf karna penulis hanya membuat kesimpulan dari berbagai sumber yang ada…
Nuwun…


Indang Murwati